Tarbiyah, dakwah, dan jihad adalah tiga pilar utama terbangunnya masyarakat tauhid. Ketiganya merupakan rangkaian proses yang membingkai keberadaan jama’ah secara utuh. Satu di antaranya tidak sinergi, dapat dipastikan gerakan tersebut tidak akan survive sebagaimana lembaga pergerakan yang pernah ada kemudian mengalami stagnasi.

Proses awal dimulai dengan gerakan tarbiyah sebagai upaya transformasi wahyu dalam membangun kesadaran fikr (intlektual) dan kesadaran qalbu (iman) atas kebenaran Allah dan ajaran-Nya. Revolusi pola fikir dan keyakinan yang terjadi dalam proses internalisasi wahyu tersebut selanjutnya akan mengubah struktur kejiwaan yang nampak pada sikap dan ekspresi dirinya. Beginilah gambaran yang terlihat dalam perjalanan awal Rasulullah membina sahabatnya.

Rasulullah berusaha maksimal memahamkan dan meyakinkan para sahabatnya setiap wahyu yang turun. Sentuhan wahyu secara sistematis mampu mereposisi dan mereorientasi hidup mereka sesuai dengan kehendak kebenaran secara pasti. Sikap dan prilaku mereka tunjukkan sebagaimana kebenaran wahyu meskipun berlawanan dengan tradisi jahiliyah pada saat itu. Keyakinan dan pemihakan mereka secara utuh ternyata tidak sia-sia. Mereka mendapatkan pengakuan langsung dari Allah sebagai umat yang terbaik bahkan dijamin ampunan dan syurga (Q.S. At-Taubah:100). Sebuah jaminan dan penghargaan yang sangat tinggi nilainya yang tidak akan mampu dicapai generasi sesudahnya.

Ketika iman tertancap, tidak puas tanpa perubahan. Spirit ini terus berkobar karena realitas yang dihadapi Rasul dan sahabatnya sangat kontras dengan nilai-nilai wahyu. Dari sinilah gerakan dakwah secara ekspansif dimulai. Karena dengan dakwah diharapkan terjadi transmisi manhaj menuju perubahan kultur secara menyeluruh. Setelah berusaha mengajak kepada kerabat dan masyarakat Makkah, ternyata Rasulullah tidak berhasil bahkan diusir dari negerinya. Rasulullah tidak putus asa karena sudah menjadi kesadaran ideologis bahwa wahyu/agama yang dibawanya adalah misi rahmatan lil’alamin, apa pun rintangannya harus disampaikan dan menjadi sistem dalam kehidupan manusia.

Pertimbangan strategi Rasulullah selanjutnya adalah hijrah. Atas bimbingan wahyu Rasulullah meninggalkan keluarga dan negerinya menuju Madinah. Di tempat inilah Rasulullah membangun gerakan dakwah secara menyeluruh yang akhirnya mengantar Madinah menjadi wilayah teritorial tegaknya hukum Allah swt. Strategi ini menjadi catatan sejarah bahwa gerakan peradaban Islam disyaratkan adanya wilayah teritorial sebagai markaz pelaksanaan syari’at secara ketat. Sebagaimana Rasulullah berhasil meletakkan akar peradaban Islam di Madinah yang dalam sejarah disebut Madinah Al-Munawwarah.

Eksisnya Islam di Madinah bukanlah akhir perjalanan Islam. Islam akan diuji dan diperhadapkan pada tantangan global. Dunia dengan ideologinya akan memberikan perlawanan. Dan terbukti baru sekitar 3 tahun Rasulullah berhasil membangun kultur di Madinah, kekuatan multi nasional sudah mengancamnya . Sebuah sunatullah bahwa al-haq dan al-bathil tidak akan kompromi dalam proses kehidupan. Demi Allah dan kemuliaan agamanya, Rasul bersama sahabatnya membela diri dan melakukan perlawanan terhadap serangan kafir Quraisy Jahiliyah di lembah Badar. Dengan keteguhan menjaga prinsip dan menjual diri untuk Allah akhirnya mereka menang.

Oleh Ust Drs Tasyrif Amin

Penulis adalah Ketua Dep. Dakwah DPP Hidayatullah

Advertisement